
JAPBUSI dan ILO Gelar Pelatihan Non Diskriminasi Berbasis Gender di Ketapang
Ketapang – Jaringan Serikat Pekerja/Serikat Buruh Sawit Indonesia (JAPBUSI) bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO) menggelar pelatihan tentang non diskriminasi berbasis gender serta sistem pengaduan berbasis website dan aplikasi bagi pekerja sektor kelapa sawit. Kegiatan tersebut berlangsung di Aston Hotel Ketapang, Kamis (7/5/2026).
Acara dibuka secara resmi dengan penuh semangat kebersamaan dan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pelatihan ini diikuti peserta dari DPC F HUKATAN-KSBSI Kabupaten Ketapang sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan hak-hak pekerja di sektor perkebunan sawit.
Dalam kegiatan tersebut, Buntung, CPLA yang juga bertindak sebagai pembawa acara sekaligus narasumber, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu undangan.
“Selamat datang dalam acara pelatihan non diskriminasi berbasis gender dan sistem pengaduan berbasis website dan aplikasi. Semoga kegiatan ini menjadi langkah bersama dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, adil, dan bebas diskriminasi,” ujarnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPC, Sekretaris Eksekutif JAPBUSI Nursanna Marpaung, perwakilan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Barat Uti Limu Royen, DJ Gerhard Harefa dari ILO Jakarta, serta Asitha Senervirate dari ILO Jakarta.
Dalam sambutannya, Nursanna Marpaung selaku Sekretaris Eksekutif JAPBUSI menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen JAPBUSI bersama ILO melalui program Realizing Trade Gains Free from Gender Discrimination and Child Labour (RealGains).
Menurutnya, sektor kelapa sawit di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat masih menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan, mulai dari kondisi kerja yang belum layak, kerentanan pekerja perempuan terhadap paparan bahan kimia, hingga terbatasnya akses perlindungan maternitas dan jaminan sosial.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin meningkatkan kapasitas pengurus serikat buruh dalam penggunaan aplikasi pengaduan digital atau digital grievance mechanism, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai prinsip non diskriminasi dan hak-hak dasar pekerja,” jelasnya.
Sementara itu, DJ Gerhard Harefa dari ILO Jakarta bersama Asitha Senervirate dari ILO Jakarta memberikan pengarahan program terkait pentingnya penerapan prinsip kerja layak, penghapusan diskriminasi gender, serta perlindungan pekerja anak di sektor perkebunan sawit.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Uti Limu Royen yang mewakili Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Barat. Dalam arahannya, ia mengapresiasi sinergi antara JAPBUSI dan ILO dalam meningkatkan kualitas perlindungan tenaga kerja di Kalimantan Barat.
Ia berharap pelatihan tersebut mampu memperkuat pemahaman serikat pekerja dalam menangani persoalan ketenagakerjaan secara profesional, termasuk pemanfaatan sistem pengaduan digital yang lebih mudah diakses oleh pekerja.
Pelatihan ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, mulai 7 hingga 8 Mei 2026, dengan fokus pada peningkatan kapasitas peserta dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, aman, dan bebas diskriminasi di sektor perkebunan sawit Indonesia.